Sejarah Peristiwa Pemberontakan Kapal Zeven Provincien 1933


Peristiwa kapal tujuh provinsi yang terjadi pada tanggal 5 Februari tahun 1933, peristiwa ini terjadi pada saat negara indonesia masih pada dudukan kolonial Hindia Belanda. Pada saat itu telah terjadi Pemberontakan awak kapal perang yang dijuluki "De Zeven Provincien".

De Zeven Provincien adalah julukan kapal perang terbesar pemerintah Hindia Belanda yang berfungsi sebagai tempat karantina marinir Hindia Belanda, Bangsa Eropa dan juga Pribumi yaitu orang Indonesia. 

Aksi pemberontakan ini terjadi pada saat kapal dalam pelayaran menuju surabaya yang bertujuan untuk mengambil alih kemudi kapal, dikarenakan telah terjadi penurunan upah para awak kapal sebesar 17%.

Peristiwa tersebut telah menjadi sorotan publik dan membuat peristiwa tersebut hingga masuk dalam kategori Sejarah Indonesia.

Adapun perkataan dalam De Zeven Provincien menurut Touwen Bouwsma dan J.C.H Blom : Ketika kelasi indonesia berontak 1933 , Terdapat beberapa orang Indonesia di dalam kapal tersebut yakni Para toko utama yang memprakasai terjadinya peristiwa kapal Tujuh Provinsi tersebut. Seperti Gosal, Kawilarang, Rumambi dan Paradja. 

J.C.Mollema juga telah menerangkan bahwa kapal tersebut digunakan sebagai tempat pelatihan para marinir pribumi yang sudah menyelesaikan studi di pendidikan dasar pelaut Bumiputera atau disebut (Kweekschool voor inlandse Schepelingen). 

KRONOLOGI PERISTIWA KAPAL TUJUH (1933)

Pada saat itu surat kabar medan Ra'jat sempat dihebohkan oleh berita peristiwa ini dengan judul "Pemberontakan Pada Marine", Telah terjadi kasus Pemberontakan kapal perang De Zeven Provincien

Hendrikus Colijn Mentri Jajaran Belanda ikut mengambil keputusan atas peristiwa tersebut, Hendrikus Colijn Telah memutuskan untuk bertindak lebih tegas kepada para awak kapal yang ikut dalam aksi tersebut dan melarang seluruh media untuk tidak mempublikasikan peristiwa itu. 

Dalang dari aksi pemberontakan tersebut ternyata anggota marinir yang bernama Bumiputera, yang terdiri dari Kwilarang, Gosal, Paradja, Romambi dan terdapat juga awak kapal bangsa eropa yang ikut dalam aksi pemberontakan tersebut. 

Kapal perang yang dibawah pimpinan Kwilarang tersebut bertujuan ke Kota Surabaya, dan selama perjalanan menuju Kota Surabaya kapal perang tersebut juga sudah banyak mengalami hambatan dari kolonial Belanda. 

Selama perjalanan menuju Kota Surabaya Kapal perang tersebut dikepung oleh beberapa kapal selam dan pesawat tempur yang sudah siap dengan senjatanya. 

Kemudian pesawat tempur tersebut mengeluarkan peringatan nya namun mereka mengabaikan peringatan tersebut, lalu salah satu pesawat tersebut menembakkan bom tepat di kapal perang yang dipimpin Kwilarang. 

Pada akhirnya akibat kejadian peristiwa itu banyak awak kapal yang meregang nyawa, Kwilarang dan awak kapal yang selamat akhirnya ditangkap. 

Kwilarang dijatuhkan hukuman 18 Tahun Penjara, Para awak kapal yang tewas telah dimakamkan dipulau Mati Kepulauan Seribu, dan akan dipindahkan ke taman makam Pahlawan. 

Kemudian setelah Indonesia Merdeka pada 17 Agustus 1945, lalu Kwilarang Diangkat Sebagai Angkatan Laut Republik Indonesia(ALRI). Pada akhirnya ia gugur pada saat menjalankan tugas di Tanjung Pinang Kepulauan Riau.


Artikel Terkait

Sejarah Peristiwa Pemberontakan Kapal Zeven Provincien 1933
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email